Kijang adalah kerabat dari rusa yang tergolong dalam genus Montiacus. Kijang atau menjangan merupakan satwa asli Indonesia yang memiliki nama ilmiah Montiacus Muntjak. Kijang bersama dengan genus Montiacus lainnya dipercaya sebagai jenis rusa yang paling tua yang sudah ada sejak 15 - 35 juta tahun, bisa dikatakan kijang merupakan satwa yang berasal dari dunia lama. Yang dibuktikan dengan ditemukannya sisa sisa dari masa Miosen di negara Jerman dan Perancis. Dibeberapa daerah Indonesia kijang dikenal dengan nama Menjangan dan kidang. Meskipun belum tergolong ke dalam satwa terancam punah, kijang termasuk hewan yang dilindungi yang tercantum dalam Lampiran PP No.7 Tahun 1999. Makanan utamanya adalah rerumputan, daun-daun muda, buah-buahan dan akar tanaman.
Kijang adalah fauna dengan wilayah penyebarannya yang paling banyak terutama di wilayah Asia. Saat ini kijang bisa kita jumpai di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Mulai dari India, Indochina, Srilanka, dan Kepulauan Indonesia. Di wilayah Indonesia kijang tersebar ke beberapa daerah seperti Bali, Bangka Belitung, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Riau, Lombok, Nusa Tenggara dan Sumatera. Kijang menyukai tempat-tempat hutan tropis, daerah vegetasi, padang rumput, sabana, hutan sekunder, Tepian hutan, daerah perkebunan, dan daerah yang terdapat aliran air. Kijang dapat hidup hingga ketinggian 3.000 m di atas permukaan laut.
Ciri Fisik Kijang
Kijang atau menjangan memiliki tubuh berukuran sedang, dengan panjang tubuh sekitar 89-135 cm termasuk kepala. Mempunyai ekor dengan panjang sekitar 12-23 cm dan bahu dengan ketinggian 40-65 cm. Kijang jantan mempunyai bobot tubuh sekitar 22 kg dan kijang betina mempunyai bobot tubuh sekitar 20 kg. Rata-rata kijang hidup hingga berumur 16 tahun. Kijang mempunyai bulu yang pendek, rapat, lembut dan juga licin. Warna bulu umumnya terdiri dari perpaduan coklat gelap dan coklat terang. Terdapat garis berwarna kehitaman pada bagian punggung. Untuk daerah kerongkongan berwarna putih hingga coklat muda. Sedangkan mulai dari kerongkongan hingga perut berwarna putih. Kijang jantan mempunyai sepasang tanduk yang pendek dan bercabang, ukurannya tidak melebihi setengah dari panjang kepala. Sedangkan kijang betina tidak memiliki tanduk, hanya berupa tonjolan tulang kecil. Terdapat gigi taring atas pada kijang jantan yang berfungsi sebagai alat pertahanan.
Kijang biasanya aktif ketika malam hari meskipun sering dijumpai beraktifitas ketika siang hari. Kijang tergolong hewan yang soliter. Kijang jantan mempunyai kebiasaan menggosokkan kelenjar frontal preorbital yang ada di bagian kepala pada tanah dan pepohonan untuk menandai wilayahnya. Tidak hanya itu kijang jantan juga menggoreskan kukunya ke tanah dan menggunakan giginya untuk menggores kulit pohon. Ketika kijang merasakan keberadaan predator, kijang akan mengeluarkan suara yang mirip dengan gonggongan anjing. Kijang mampu mengeluarkan suara gonggongan hingga lebih dari 1 jam yang berfungsi sebagai tanda adanya bahaya dan juga untuk mengusir predator. Kijang mempunyai pola tidur yang singkat hanya 3 jam setiap harinya. Hampir selama 21 jam kijang aktif beraktivitas siang dan malam.
Siklus Reproduksi Kijang
Siklus reproduksi kijang mulai produktif ketika memasuki umur 1 tahun. Kijang merupakan hewan yang kawin secara poligami, artinya kijang jantan kawin dengan banyak betina. Proses kawin bisa terjadi sepanjang tahun. Masa bunting kijang berlangsung selama 180 hari dengan bobot anak kijang yang baru dilahirkan berkisar 500 hingga 650 gram. Kijang biasanya melahirkan 1-2 ekor anak.
Upaya Pelestarian Kijang
Populasi kijang mengalami penurunan yang disebabkan oleh perburuan liar, pengrusakan hutan, dan peralihan habitat alami untuk lahan pertanian. Sehingga dikhawatirkan akan mengalami kepunahan. Hal ini mendorong pemerintah mengambil tindakan untuk menjaga kelestarian kijang. Seluruh sub spesies kijang yang ada di Indonesia telah masuk ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Tercantum dalam Daftar Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 7 Tahun 1999.

